Bogor- media cyber bhayangkara.com Di Desa Ciasihan, tepatnya di Kp. Gunung Menir yang bersebelahan dengan pembatas Desa Ciasmara, sekelompok tokoh masyarakat pernah menyatukan tekad yang kuat. Di antara mereka adalah H. Ujang, H. Hanafi, H. Irsad, Guru Baih, dan Among Anim, serta tokoh-tokoh lain yang dihormati di lingkungan tersebut. Mereka melihat potensi tersembunyi di tanah mereka—sebuah lokasi yang jika diolah, bisa menjadi objek wisata alam yang memikat. Dengan visi menghadirkan area camping yang asri, keindahan curug yang menyejukkan, serta objek wisata pendukung lainnya, mereka yakin ini adalah jalan untuk meningkatkan perekonomian masyarakat kedua desa yang berbatasan ini.
Dengan semangat yang membara, mereka mulai bekerja. Cangkul ditenggakan, sabit diayunkan, dan lahan yang tadinya liar perlahan terbuka. Jalan setapak menuju curug dibersihkan, area datar untuk tenda-tenda pengunjung disiapkan, dan spot-spot menarik lainnya mulai ditata. Harapan pun tumbuh seiring berjalannya waktu, seolah masa depan cerah sudah di depan mata.
Namun, perjuangan itu tak selamanya berjalan mulus. Seiring waktu, semangat yang tadinya berkobar perlahan meredup. Kendala demi kendala muncul—mulai dari masalah dana, kurangnya dukungan berkelanjutan, hingga tantangan dalam pemeliharaan rutin. Lahan wisata yang pernah mereka bangun dengan keringat pun perlahan kembali terabaikan. Tanaman liar mulai tumbuh kembali menutupi jalan menuju curug, area camping yang pernah ramai kini kembali ditumbuhi rumput, fasilitas yang pernah dibangun mulai rusak tak terawat, dan harapan yang dulu membumbung tinggi seolah perlahan memudar bersama debu yang menumpuk.
Hingga suatu hari, angin perubahan kembali berhembus. Rasa rindu akan kemajuan desa dan kesadaran akan potensi alam yang masih tersimpan membuat para tokoh itu kembali berkumpul. H. Ujang, H. Hanafi, H. Irsad, Guru Baih, Among Anim, dan rekan-rekannya duduk bersama, berdiskusi dengan penuh keyakinan. Kali ini, semangat mereka bukan hanya sekadar membangun, tapi juga berkelanjutan.
“Kita tidak boleh menyerah,” ujar salah satu tokoh dengan tegas dalam pertemuan itu. “Keindahan Gunung Menir, curug, dan potensi camping di sini adalah masa depan anak cucu kita, baik warga Ciasihan maupun Ciasmara. Kita harus bangkit, dan kali ini kita lakukan dengan cara yang lebih terarah dan terorganisir.”
Mereka pun kembali turun ke lapangan. Tangan-tangan yang pernah lelah kini kembali bergerak, membersihkan lahan yang terlantar, memperbaiki akses menuju curug, menata kembali area camping yang nyaman, dan merapikan objek wisata lainnya. Namun, ada satu hal baru yang menjadi fokus utama mereka: pembentukan kelompok wisata yang resmi dan solid.
Kelompok ini dibentuk bukan hanya sebagai wadah kerja, tapi sebagai simbol persatuan dan tanggung jawab bersama. Anggotanya terdiri dari berbagai elemen masyarakat—pemuda, ibu-ibu, hingga para tokoh yang berpengalaman seperti mereka. Mereka berbagi peran: ada yang mengurus pemasaran dan promosi, ada yang bertanggung jawab atas pemeliharaan fasilitas dan kebersihan alam, ada yang mengelola keuangan dengan transparan, dan ada yang melatih pelayanan ramah bagi pengunjung.
Dengan terbentuknya kelompok wisata ini, beban tidak lagi dipikul oleh segelintir orang saja. Setiap warga merasa memiliki andil dalam kemajuan objek wisata di perbatasan Ciasihan dan Ciasmara ini. Namun, satu harapan besar masih menyelimuti hati mereka: mereka berharap kedua desa dapat segera mengizinkan dan mengesahkan keberadaan kelompok wisata ini. Dengan pengesahan resmi, mereka yakin langkah mereka akan semakin kokoh, dukungan akan semakin mudah didapat, dan visi menjadikan Gunung Menir sebagai destinasi wisata unggulan yang berkelanjutan akan segera terwujud, membawa kesejahteraan bagi seluruh masyarakat desa ciasmara juga ciasihan kecamatan pamijahan di masa depan.
Jurnalis : Tb.Gunawan

