Ngahurip Bumi,Filosofi Sabilulungan Dalam Perspektif Tokoh Untuk Bangkit Bersama Membangun Peradaban Dunia

Ngahurip Bumi,Filosofi Sabilulungan Dalam Perspektif Tokoh Untuk Bangkit Bersama Membangun Peradaban Dunia

mediacyberbhayangkara.com, BOGOR KOTA – Berangkat dari visi,misi, dan kepedulian akan potensi nilai-nilai peradaban nusantara sekaligus dalam mendorong peran serta masyarakat untuk ikut berpartisipasi aktif melestarikan sekaligus mengangkat dan memberdayakan kearifan budaya daerah dalam ragam nilai-nilai tradisional yang kondisinya saat ini sedang dalam keadaan kritis karena semakin dilupakan.

Yayasan BESTDAYA (Bengkel Studi Budaya) bersama ELITIS DAYA MEDIA menggelar Ritual Pengetahuan Cerdas Berbudaya di BUMI AGEUNG PAKUWAN tepatnya di situs batu tulis Jl. Batu Tulis No.135, RT.001/002/RW.02 Batutulis, Bogor Selatan, Kota Bogor, Sabtu, 24 September 2022 Masehi, Tumpek Kaliwon, 6 Kresnapaksa Posya 1959 Ḉaka SundaTumpek Kaliwon, 4 Kadasa 1944 Saka Sunda Wuku Gumbreg, 27 Safar 1444 Hijiriah 27 Pon Sapar 1956 Asapon/Jawa.

Hj. Elimayanti Padmawijaya(Teh Eli) Ketua Pelaksana  Ritual Pengetahuan Cerdas Berbudaya menjelaskan,” tata kelola kemajuan budaya yang lebih baik menuju 100 (seratus) tahun kemerdekaan Indonesia yang juga pada hari ini peringatan hari Agraria juga hari tani di tahun cacing menurut kalender sunda,

Ada makna tersirat dari prasasti Batu Tulis yang sebenarnya adalah merupakan ‘harta karun’ peninggalan Kerajaan Padjajaran yaitu sebuah ‘pengajaran luhur’ dari Prabu Siliwangi tentang sifat dan karakter : Silih Asih – Asah – Asuh, Saling mengasihi atau mencintai, saling mengasah dengan aktif berdiskusi bertukar pikir, dan saling mengasuh mengisi dalam kehidupan, Batu Tulis merupakan tempat penobatan raja-raja Pajajaran termasuk Prabu Siliwangi (1482-1521). Siliwangi dari kata Asilih Wewangi atau berganti nama,

Kekuatan dan keagungan Prabu Siliwangi dipercaya bersemayam di dalam Batu Tulis sehingga memberikan perlindungan pada negara dari serangan musuh dan memberi kekuatan pada Raja yang memerintah. Kekuatan yang dimaksud adalah kekuatan batin Prabu Siliwangi bersama para raja-raja terdahulu yang terus menaungi dan melindungi kerajaan dengan energi cinta dan kasih” papar Teh Eli sapaan akranya.

Rasa syukur dan terima kasih banyak kepada para undangan yang telah hadir,

Drs. H. DEDIE A. RACHIM, M.A Wakil Walikota Bogor, Dra. Ir. Hj. ENI SUMARNI, M.Kes.Anggota DPD RI Perwakilan Jawa Barat; Pelestari Budaya Sunda, Prof. Dr. INDIRA SANTI KERTABUDI, Ph.D.Dosen Ilmu Admistrasi Institut Ilmu Sosial dan Manajemen STIAMI; Analisis Madya Kebijakan Publik dan Deputy of Social Affairs di Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (LEMHANNAS RI); Deputy Ketahanan Pertahanan di PBB; Ketua Pengurus Yayasan Swastisvarna 2022 – 2027 “Memberi Ruang Bagi Lansia Untuk Menikmati Hari Tua”, Dr. SHRI LALU GDE PHARMANEGARA PARMAN, M.A.,Ph.DParadhya Lombok VIII, Nusa Tenggara Barat; Eksekutif Nasional Asosiasi Kerajaan dan Keraton Se–Indonesia (AKKI), Ir. SYARIF BASTAMAN, M.Sc.Alumnus (S-1) Department of Food Technology IPB Bogor; (S-2 degree) Faculty of Engineering, The Queen’s University of Belfast (QUB) Northern Ireland, The United Kingdom. Adviser and Research and Development, KI RESSI AGUS FIRMANSYAH, M.Hum.Pemangku Adat di Kesatuan Pemangku Adat Sunda Langgeng Wisesa (SLW); Ketua Majelis Cendekiawan Keraton Nusantara (MCKN) Kabupaten Bogor, ATEP BUDIMAN, S.STP., M.MKepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan (DISPARBUD) Kota Bogor dan semuanya yang sudah hadir di acara ini” sambung teh Eli.

Acara di mulai dengan Ritual Pengetahuan Ngahurip Bumi oleh MIRANDA H.WIHARDJA Pendiri/Pembina Yayasan BESTDAYA (Bengkel Studi Budaya)Penggiat & Pengelola Sistem Penanggalan Kalender Sunda,

“Numbal (NgaHurip Bumi Munar Lemah) Agar segala sesuatu yang dilakukan oleh masyarakat di Bumi Pajajaran dan semua yang dihasilkan tanah di Bumi Pajajaran bisa bermanfaat dan barokah.

Ngarak Dewi Sri, Helaran arak-arakan mengelilingi Bumi Ageung Pakwan.

Nyawer Dewi Sri, Syair Buhun sebagai pujian terhadap Sang Pencipta, kepada leluhur dan pada Leluhur dan Nyi Pohaci atau Dewi Sri.

Ijab Rasul, Sebagai ungkapan rasa terimakasih kepada Tuhan dan pada para leluhur bahwa upacara telah berjalan dengan lancar tidak kurang suatu apa pun.

Tari & Kawih Sabilulungan, yang memiliki arti saling tolong menolong atau seia sekata, adalah merupakan dasar dalam melakukan gotong royong atau kerja sama. 

Dengan adanya sabilulungan tersebut, maka akan ada kebersamaann dalam hidup, saling menyayang, saling membantu, yang pada akhirnya akan dapat memperkokoh persatuan” jelas teh Mira.

Prof. Dr. INDIRA SANTI KERTABUDI, Ph.D. salah satu tokoh weuweungkon menerangkan “dengan hari ini kita berkumpul untuk membuat ‘statement’ kita ini harus konsekuen dengan apa yang di amanatkan oleh isi undang-undang yaitu melaksanakan amanah, saya sendiri sebagai aparat negara berkewajiban untuk mengajak atau membuat kapasiti blockman penguatan dalam pencapaian kesejahteraan bangsa, mari kita sebagai bangsa Indonesia konsekuen apa yang sudah di buat rencana strategi pemda dalam pembangunan itu harus di jalankan” terang Bu Prof sapaan akrabnya.

Dra. Ir. Hj. ENI SUMARNI, M.Kes. Mengartikan Sabilulungan dalam artian tidak putus silaturahmi seperti kegiatan ini, kita beasal dari mana mana tapi tujuan nya sama, dengan sejarah yang memberi makna yaitu kejadian yang sudah tejadi untuk jadi pelajaran atau pedoman untuk melangkah kedepan, tutur Eni.

Ir. SYARIF BASTAMAN, M.Sc. menyampaikan pesan “berkaitan dengan tahun cacing atau tahun Lusi lengkap nya Giri Lusi (gunung cacing), kalo kita mau bertani jangan ngasih pupuk tanaman tapi yang kita kasih pupuk adalah tanahnya (beri makan tanah bukan tanaman) dengan memberi makanan kepada tanah maka semua yang tumbuh di tanah itu akan subur”, ujar Bah Syarif.

Rangkaian ritual Pengetahuan Cerdas Berbudaya diakhiri dengan doa oleh Bunda Resmi Lailatullatifah dari Wanoja Sunda wangi.

Laporan : Agus

Tinggalkan Balasan