Mediacyberbhayangkara.com – Jakarta, 1 Juni 2026 – Di tengah suasana khidmat dan penuh semangat kebangsaan yang menyelimuti seluruh pelosok tanah air dalam memperingati Hari Lahir Pancasila, Saya berkesempatan melakukan wawancara eksklusif dengan Ketua Umum Laskar Sangidu Putih. Dalam suasana kekeluargaan saya di terima langsung di kediaman beliau di daerah Lubang Buaya Jakarta Timur, Senin Pagi 1 Juni 2026 sekitar pukul 10.00 Wib .Dalam percakapan yang berlangsung hangat dan mendalam ini, beliau memaparkan makna penting momen bersejarah ini, peran strategis organisasi kemasyarakatan, serta komitmen kuat Laskar Sangidu Putih dalam menjaga dan mengamalkan nilai‑nilai luhur Pancasila .
Pewawancara: Selamat Hari Lahir Pancasila 2026, Ketum.
Tema tahun ini adalah “Pancasila Pemersatu Bangsa, Fondasi Perdamaian Dunia” . Bagaimana Bapak memaknai tema ini di tengah keberagaman bangsa Indonesia saat ini?
Ketua Umum : Terima kasih, dan selamat memperingati Hari Lahir Pancasila bagi segenap rakyat Indonesia. Bagi kami, tema ini bukan sekadar kalimat seremonial, melainkan panggilan hati dan tanggung jawab nyata. Pancasila lahir dari pemikiran mendalam para pendiri bangsa sebagai kesepakatan bersama, jembatan persatuan yang menyatukan beragam suku, agama, ras, dan budaya dalam satu ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia . Di saat dunia dan bangsa kita menghadapi berbagai tantangan, perbedaan tidak boleh menjadi jurang pemisah, melainkan kekayaan yang memperkuat kita. Pancasila adalah kompas arah, dan menjadi pemersatu adalah tugas kita semua, terlebih bagi organisasi yang tumbuh dan hidup di tengah masyarakat.
Pewawancara: Sebagai pimpinan organisasi kemasyarakatan, bagaimana Ketum memandang posisi dan peran ormas dalam menjaga nilai‑nilai Pancasila?
Ketua Umum: Sesuai Undang‑Undang Nomor 17 Tahun 2013, ormas dibentuk untuk berpartisipasi dalam pembangunan demi tercapainya tujuan negara yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945. Jadi, hakikat keberadaan kami adalah sebagai mitra bangsa dan negara. Kami bukan sekadar kelompok yang berkumpul, melainkan garda terdepan yang menanamkan, menghidupkan, dan mengamalkan sila‑sila Pancasila di kehidupan nyata.
Sila Ketuhanan Yang Maha Esa kami jalankan dengan menjaga toleransi dan saling menghormati keyakinan masing‑masing. Sila Kemanusiaan yang Adil dan Beradab kami wujudkan melalui kegiatan sosial, bakti masyarakat, dan kepedulian terhadap yang membutuhkan. Persatuan Indonesia adalah jiwa Laskar Sangidu Putih; kami melarang keras sikap yang memecah belah atau mengutamakan kepentingan golongan sendiri. Demokrasi dan Keadilan Sosial kami terapkan dalam cara berorganisasi: musyawarah, adil, tidak ada yang merasa paling penting atau paling berkuasa, semua punya peran dan martabat yang sama.
Pewawancara: Belakangan ini masih ada persepsi negatif di masyarakat terhadap keberadaan ormas. Bagaimana Bapak menanggapi hal ini dan apa langkah yang dilakukan Laskar Sangidu Putih?
Ketua Umum: Persepsi itu muncul karena perbuatan sebagian oknum yang menyalahgunakan nama organisasi untuk kepentingan pribadi atau kelompok, yang tentu saja bertentangan dengan tujuan berorganisasi. Kita harus tegas membedakan antara oknum dengan lembaga. Bagi Laskar Sangidu Putih, kami sadar sepenuhnya bahwa kepercayaan masyarakat adalah modal utama. Oleh karena itu, kami menanamkan prinsip: “Jangan merasa paling berjasa, karena semua anggota berhak mengatakannya. Jangan merasa paling penting, karena kamu hanyalah satu dari ribuan benang yang menjalin kekuatan besar ini.”
Kami terus memperkuat tata kelola, mendidik kader agar memahami hukum dan etika, serta menindak tegas siapa pun yang melanggar aturan dan norma. Keberadaan kami harus membawa ketenangan, manfaat, dan kedamaian, bukan sebaliknya. Kami ingin membuktikan bahwa ormas yang berlandaskan Pancasila adalah kekuatan positif dan solusi bagi bangsa.
Pewawancara: Baru saja dilaksanakan resepsi pernikahan putra Bapak yang dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat, termasuk Forum Lintas Ormas DKI Jakarta dan tokoh‑tokoh masyarakat seperti Ibu Hj. Fahira Idris, SE., MH. Apa pesan yang ingin disampaikan melalui momen persaudaraan ini?
Ketua Umum: Acara itu bukan sekadar perayaan keluarga, melainkan bukti nyata persatuan dan persaudaraan lintas kelompok. Kehadiran rekan‑rekan dari berbagai ormas, tokoh masyarakat, dan wakil rakyat menunjukkan bahwa kita bisa bersatu di tengah perbedaan. Itulah wajah Pancasila yang sesungguhnya: hidup berdampingan, saling menghargai, dan saling mendukung. Hal ini sejalan dengan prinsip kami bahwa kekuatan terbesar organisasi maupun bangsa adalah persatuan, bukan kekuatan individu. Kami sangat berterima kasih atas doa dan kehadiran mereka, yang sekaligus menjadi dorongan semangat bagi kami untuk terus berkarya.
Pewawancara: Apa harapan dan pesan Bapak untuk anggota Laskar Sangidu Putih dan masyarakat luas di Hari Lahir Pancasila ini?
Ketua Umum: Harapan kami, mari kita jadikan Pancasila sebagai nafas dalam setiap langkah dan tindakan. Kepada seluruh anggota, saya ingatkan kembali: kita ada untuk mengabdi, bukan dilayani. Kita ada untuk menjadi jembatan persatuan, bukan tembok pemisah. Ingatlah, organisasi dan bangsa ini akan tetap kokoh meski ada yang pergi, sama seperti pohon yang tetap tumbuh meski satu dahan telah patah. Jadi, bekerjalah dengan ikhlas, rendah hati, dan penuh tanggung jawab.
Kepada seluruh masyarakat, mari kita bergandengan tangan menjaga persatuan dan kesatuan. Jangan mudah terprovokasi perbedaan, karena kita semua adalah anak bangsa yang lahir dan besar di tanah yang sama. Semoga Pancasila senantiasa menjadi benteng dan penuntun kita menuju Indonesia yang maju, adil, makmur, dan beradab. Dirgahayu Hari Lahir Pancasila, jayalah selalu tanah airku.
Pewawancara: Terima kasih atas waktu dan pandangan yang sangat berharga ini, Ketum.
Ketua Umum: Sama‑sama, semoga bermanfaat bagi kita semua.
pewawancara adalah Tengku Chairul Amri seorang wartawan senior kelahiran Medan yang telah melahirkan banyak karya jurnalis yang telah di muat di berbagai media online dan cetak di Indonesia.
H. Amri
