Catatan Refleksi Peringatan Hari Pendidikan Nasional Oleh Farhan Founder Lingkar Studi Ekonomi

Catatan Refleksi Peringatan Hari Pendidikan Nasional Oleh Farhan Founder Lingkar Studi Ekonomi

Mediacyberbhayangkara.com

Ciamis, Jabar –Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang dirayakan setiap tanggal 2 Mei di Indonesia merupakan momen penting bagi seluruh elemen bangsa untuk merefleksikan kembali pentingnya pendidikan dalam membangun karakter dan peradaban bangsa

Peringatan ini tidak hanya sekedar seremonial, melainkan sebagai sarana introspeksi dan evaluasi terhadap sistem pendidikan yang ada, serta upaya peningkatan kualitas pendidikan di Indonesia kata Farhan sebagai Founder Lingkar Studi Ekonomi kepada mediacyberbhayangkara, Rabu(2/5/2024).

“Sebelum saya memberikan Analisa terkait Refleksi Hari Pendidikan Nasional saya ingin memaparkan terkait dengan hakikat merdeka. Secara ideal, merdeka ialah kebebasan jiwa dan raga yang sinkron dengan nilai dan norma, bukan bebas sesukanya. Merdeka memiliki nilai yang mampu dijadikan sebagai teladan bagi orang lain. Merdeka juga diartikan sebagai hak, tetapi terdapat kewajiban yang harus dipenuhi” ungkapnya

Semboyan pendidikan yang terkenal dari Ki Hadjar Dewantara adalah: ing ngarsa sung tuladha, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani, yang artinya “di depan memberi contoh, di tengah memberi semangat, di belakang memberi dorongan.”

“Dalam suasana peringatan Hardiknas itu, perlu bagi bangsa ini untuk melakukan refleksi terhadap makna dari pendidikan. Melalui itu, diharapkan kita mendapat energi yang segar sehingga mampu lebih maksimal dalam mengembangkan iklim pendidikan di Indonesia di hari-hari selanjutnya” ucap Farhan

Salah satu Prinsip Pendidikan Menurut Paulo Freire Adalah Pendidikan Yang membebaskan dalam artian pendidikan menjadi jalur permanen pembebasan, dan berada dalam dua tahap. Pertama, pendidikan menjadikan orang sadar akan penindasan yang menimpa mereka dan melalui gerakan praktis mengubah keadaan itu. Kedua, pendidikan merupakan proses permanen aksi budaya pembebasan.

Dalam upaya membentuk individu yang independen, berdaya, dan merdeka itu, peran pengajar dalam proses pendidikan menjadi sangat sentral di sini. Akan tetapi tidak semua anak anak merasakan-nya masih banyak anak-anak yang membutuhkan dan ingin mendapatkan hak pendidikan tapi terhalang karena keterbatasan ekonomi Seperti Anak anak Jalanan yang di tuntut untuk mencari sesuap nasi yang tidak bisa mendapatkan haknya apakah itu artinya kebebasan dalam pendidikan sudah tercapai ?.

Hemat Farhan Kontribusi Pemerintah dan Lembaga pendidikan dalam Menghadapi dan menyelesaikan persoalan persoalan yang sedang terjadi seperti yang di atas dapat di jalankan dalam bentuk Kontribusi Turun dalam mengupayakan dan meningkatkan Iklim Pendidikan Yang merata dan merdeka.

Selain Semangat mempertanyakan Pemerataan Pendidikan dalam Meningkatkan literasi digital tidak lain adalah sesungguhnya peran lembaga pendidikan sangat sentral dalam membentuk peserta didik menjadi pribadi yang kritis. Pentingnya meningkatkan keterampilan berpikir kritis dikarenakan fenomena maraknya praktik kejahatan di dunia digital, misalnya berita bohong, menandakan rendahnya keterampilan berpikir kritis dari masyarakat kita.

Ketika berita bohong begitu mudah dibagikan, itu berarti penilaian kita kabur dan kemampuan analisis kita menyedihkan. Kondisi ini dalam tingkat tertentu adalah hasil dari kurikulum pendidikan yang tidak berfokus pada aspek berpikir kritis. Di Indonesia kita menemukan kenyataan itu.

Siswa terbiasa menghafal sejak di sekolah dasar tanpa berfokus pada keterampilan berpikir kritis. Ketika menerima informasi, siswa diminta untuk menghafal, bukan untuk mempertanyakan apakah informasi yang mereka terima benar, atau mengapa begitu adanya.

Hal-hal seperti itu berlanjut dibawa ke domain publik, domain di mana seseorang semakin banyak berhadapan dengan lalu lintas informasi. Masyarakat kita terbiasa menerima informasi begitu saja, alih-alih mempertanyakannya.

Sumber : Jurnal Unair (Meninjau makna Pendidikan dan Pendidikan yang relevan di era digital Ransis Raenputra, Dwifatma, 2019)

Dalam suasana seputar peringatan Hardiknas, sambil terus menegaskan pendidikan sebagai sumber utama kemajuan peradaban manusia, bangsa ini juga mesti secara sungguh memastikan dan menjadikan pendidikan sebagai kompas yang adaptif dan relevan dalam menuntun kehidupan bangsa di jalur yang tepat dan Merdeka Secara merata , termasuk dalam berhadapan dengan era digital ini.***

Jurnalis : Ahyarul Fitriadin

Tinggalkan Balasan