Mediacyberbhayangkara.Com
Ciamis, Jabar — Maraknya anak jalanan masih menjadi pemandangan monohok yang menghiasi pusat-pisat kota, termasuk Kabupaten Ciamis.
Sekolah Alternatif (pegiat pendidikan anak jalanan) meminta Pemerintah serius tangani nasib pendidikan anak jalanan yang ada di Kabupaten Ciamis.
“Pemerintah harus serius dan lebih care lagi terhadap anak jalanan di Ciamis, terlebih nasib mengenai pendidikan mereka. Ini masalah serius, terlebih ada unsur eksploitasi karena mereka dipaksa bekerja oleh orang tuanya hingga larut malam,” kata inisiator Sekolah Alternatif, Alan Fauzi. (1/4/2024).
Alan menuturkan, anak jalanan di Kabupaten Ciamis memperihatinkan. Masih banyak yang tidak mengenyam bangku sekolah, buta huruf, tidak bisa mengaji dan sampai dipaksa bekerja sampai larut malam.
“Anak jalanan di Kabupaten Ciamis mengkhawatirkan. Banyak yang tidak bisa bersekolah, masih buta huruf, tidak bisa mengaji dan bahkan dieksploitasi untuk bekerja sampai larut malam oleh orang tuanya. Jika dibiarkan terus menerus ini akan menjadi sebuah lingkaran setan yang tak berujung sampai mereka dewasa,” ungkap Alan.
Terkait pengeksploitasian anak, Alan berharap Pemkab lebih serius menangani nasib mereka.
“Kami berharap Pemkab Ciamis lebih serius dalam menangani dan memikirkan nasib anak jalanan yang marak. Bertanggungjawab memastikan hak-haknya terpenuhi, membantu menyelesaikan masalahnya dan berkomitmen menghilangkan segala bentuk eksploitasi yang terjadi, tutup Alan.
Selain itu, Alan meminta Pemkab dan pihak yang berwenang lainnya agar secara aktif melakulan fact-finding terhadap segala bentuk kasus anak sekaligus memberikan treatment yang tepat bagi mereka.
“Kami selalu meminta agar Pemkab dan pihak berwenang lainnya melakukan fact-finding, mengurai masalah secara lengkap agar bisa bergerak dan merumuskan kebijakan yang tepat untuk menyelsaikan permasalahan yang ada. Selain itu, treatment yang baik juga penting dilakukan. Dari mulai memfasilitasi pendidikannya, pendampingan mental sampai berupaya memastikan mereka aman dari jebakan eksploitasi yang sudah mengakar,” tutup Alan.***
Jurnalis : Ahyarul Fitriadin
